Alam Terkembang jadi Guru dalam Belajar Matematika

Matematika merupakan mata pelajaran yang dipelajari pada tiap jenjang pendidikan, bahkan kegiatan pra-matematika pada anak usia dini pun dianggap penting. Kegiatan pramatematika juga merupakan pondasi anak belajar matematika pada tahap selanjutnya. Pra-matematika merupakan kemampuan yang berkenaan dengan pola-pola, urutan, pengklasifikasian, ukuran, konsep, bilangan, korespondensi satu-satu, dan konsep bentuk geometri (Lasuka, et al., 2018). Dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 60 Tahun 2013, anak usia dini adalah bayi yang baru lahir hingga anak-anak yang belum genap berusia 6 tahun. Kegiatan pra-matematika pada anak usia dini dirancang semenarik mungkin guna memantik rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu merupakan titik awal dari pengetahuan yang dimiliki oleh manusia (Ningrum, et al., 2019). Kegiatan pra-matematika di antaranya seperti dengan kegiatan meronce, mewarnai, mengelompokkan benda – benda yang memiliki bentuk yang sama, bahkan dapat pula melatih pra-matematika dengan bermain di alam terbuka. Kegiatan – kegiatan tersebut dapat melatih motorik halus dan motorik kasar pada anak, yang merupakan kebutuhan guna mengoptimalkan perkembangan anak itu sendiri. 

Lalu bagaimana dengan belajar matematika pada anak jenjang lebih tinggi? Mengapa belajar matematika pada tingkat sekolah formal biasanya diisi dengan melakukan perhitungan, menulis di buku, serta berpikir dengan duduk diam di bangku? Tentu hal ini tidak mutlak salah, namun  jika terus menerus seperti ini, muncul pertanyaan, apakah anak – anak pada usia tersebut tidak lagi membutuhkan kegiatan yang lebih menyenangkan? Apakah belajar matematika tidak dapat melalui kegiatan yang asyik? Siswa yang menganggap matematika sebagai pelajaran yang relatif sulit dan membentuk kesan dan pengalaman secara negatif terhadap matematika umumnya berdampak buruk baik bagi motivasi belajar matematika maupun penyesuaian akademik di sekolah (Siregar, 2017).

Untuk membuat kegiatan bermatematika lebih dekat dan mudah dipahami peserta didik, guru dapat memilih menggunakan media pembelajaran atau alat peraga yang representatif. Selain itu, guru dapat pula mencoba kegiatan menyenangkan lainnya guna memecah kebosanan, seperti kegiatan pra-matematika yang biasa anak usia dini lakukan yakni ‘terjun ke lapangan’. Peserta didik dapat belajar matematika di alam terbuka atau di luar kelas lewat kegiatan jelajah sekitar. 

Belajar Himpunan lewat Jelajah Sekitar

Dalam KBBI, jelajah berarti berpergian ke mana – mana untuk menyelidiki dan sebagainya. Dengan kegiatan berjelajah, peserta didik ‘mengalami’ langsung apa yang akan dipelajarinya, mereka berkesempatan pula menghubungkan matematika dengan materi pelajaran lainnya seperti pelajaran IPA bahkan pelajaran bahasa, tentu hal ini akan membuat belajar matematika lebih bermakna. Hal ini sejalan dengan UNESCO (dalam Ratnaningsih, 2012) merekomendasikan bahwa pembelajaran matematika sebaiknya mangacu pada empat pilar yaitu: 1) belajar mengetahui (learning to know); 2) belajar melakukan (learning to do); 3) belajar hidup dalam kebersamaan (learning to live together); 4) belajar menjadi diri sendiri (learning to be).

Kegiatan awal, guru membagi peserta didik dalam beberapa kelompok. Kelompok – kelompok tersebut mendapatkan lokasi jelajah yang berbeda beda. Sebagai contoh, kelompok jelajah perpustakaan, kelompok jelajah taman sekolah, dan kelompok jelajah parkiran sekolah. Guru memberikan lembar kegiatan siswa yang di dalamnya terdapat masalah untuk dipecahkan siswa.

Kegiatan inti, siswa melakukan pengamatan. Kelompok taman sekolah harus mengumpulkan data tumbuhan apa saja yang ada di sekolah sebagai semesta pembicaraan. Mana yang termasuk jenis pohon (himpunan A) dan mana yang termasuk bunga (himpunan B). Kelompok perpustakaan mendapatkan tugas mengumpulkan 25 buku sebagai himpunan semesta, lalu mengelompokkan mana saja yang termasuk jenis buku paket pelajaran, novel, buku tutorial.


Kegiatan akhir, setelah selesai melakukan pengamatan, siswa melakukan presentasi hasil pengamatan masing – masing kelompok, berdiskusi, dan bersama – sama membuat kesimpulan dalam bimbingan guru.

Karakteristik matematika yang bersifak abstrak menjadi tantangan tersendiri bagi guru dalam mentransfer atau menjadi fasilitator dalam mempelajari ilmu ini, dan juga menjadi tantangan bagi peserta didik yang masih dalam usia anak dengan kecenderungan berpikir konkritnya. Tantangan ini menuntut guru untuk menyajikan pembelajaran lebih kreatif, di antaranya seperti kegiatan di atas yang sesuai salah satu peribahasa negeri ini tepatnya dari tanah Minang, “Alam takambang jadi guru” , yang bermakna  segenap unsur yang ada di alam yang terbentang luas ini dapat dijadikan sebagai sarana menuntut ilmu atau pengetahuan.

Refrensi:
  • Lasuka, M., et al. (2018). Meningkatkan Kemampuan Pra-Matematika Dengan Menggunakan Media Balok Cuisenaire Pada Anak Kelompok A2 Paud Haqiqi Kota Bengkulu. Jurnal Ilmiah Potensia, 3(1), 18 – 23.
    https://ejournal.unib.ac.id/index.php/potensia/article/view/2896
  • Ningrum, C.H.C., et al. (2019). Pembentukan Karakter Rasa Ingin Tahu Melalui Kegiatan Literasi. IVCEJ, 2 (2), 69 – 78.
    https://ejournal.undiksha.ac.id/index.php/IVCEJ/article/view/19436
  • Siregar, N.R. (2017). Persepsi Siswa pada Pelajaran Matematika: Studi Pendahuluan pada Siswa Yang Menyenangi Game. Prosiding Temu Ilmiah X Ikatan Psikologi Perkembangan Indonesia, Semarang, 22 – 24 Agustus 2017.
    https://core.ac.uk/download/pdf/236378368.pdf
  • Ratnaningsih, C. (2012).  Jelajah Alam Sekitar dengan Strategi Partisipatif dan Pendekatan Sistem Among Sebagai Suatu Upaya Meningkatkan Minat dan Prestasi Belajar Himpunan Siswa Kelas Vii J Smp N 1 Cikampek. Pasundan Journal of Mathematic Education, 2(1), 1 – 10.
    https://journal.unpas.ac.id/index.php/pjme/article/view/2470


Comments